Jumat, 26 Februari 2016

STRATEGI MENGHADAPI MEA 2015 - DENGAN EKONOMI KREATIF

         Sosial Politik

        “STRATEGI MENGHADAPI MEA 2015 DENGAN EKONOMI KREATIF”

Oleh :
Priscilla Clara Cornelia


STRATEGI MENGHADAPI MEA 2015 DENGAN EKONOMI KREATIF
            Kita sudah tidak asing lagi dengan istilah Globalisasi. Di seluruh belahan bumi ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat signifikan dari era 80’an hingga sekarang. Banyak pergeseran dan berubahnya sistem ekonomi, kebudayaan, pendidikan, sosial, dan lainnya. Budaya sekarang yang serba instan dan cepat lebih diminati.
            Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dimana perekonomian menjadi lebih bebas. Bagi negara yang sudah siap menghadapi MEA tidak akan mengalami kendala, Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Apa sudah siapkah kita?
            Berbagai sosialisasi tentang menghadapi MEA pun mulai digembar-gemborkan. Strategi apa yang tepat dalam menghadapi MEA dengan tetap menjaga eksistensi kebudayaan Indonesia sendiri?
            Sebulan lagi kita akan memasuki tahun 2015 yang telah disepakati sebagai awal dimulainya Masyarakat Ekonomi Asean. Negara-negara anggota ASEAN telah meratifikasi Piagam ASEAN pada KTT ASEAN ke-14 di Thailand tahun 2008. Tiga pilar  ASEAN Community yang meliputi ASEAN Economic Community, ASEAN Security Community, Socio-Cultural Community akan segera diimplementasikan. ASEAN Socio-Cultural Community Blueprint (ASCCB) dimaksudkan untuk membawa ASEAN lebih dekat dengan masyarakatnya, lebih melibatkan masyarakat negara-negara anggota dalam berbagai program kegiatan ASEAN sehingga pada masa mendatang ASEAN bukan lagi hanya didominasi oleh kalangan pejabat pemerintah dan diplomat.

            Asia Tenggara adalah kawasan strategis yang memiliki kesamaan sejarah. Kawasan ini menjadi perlintasan budaya-budaya besar seperti India, Cina, Arab, dan Eropa. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara telah lama menjadi tempat pertemuan antara budaya lokal dengan budaya-budaya besar tersebut. Persilangan budaya yang terjadi di kawasan Asia Tenggara bisa menjadi modal dalam menghadapi MEA yang terintegrasi dengan ekonomi global. Hibridisasi budaya melalui akulturasi telah lama terjadi di kawasan Asia Tenggara.

            Globalisasi lebih mempercepat dan memperluas kontak budaya antara “pusat dan pinggiran”. Jika budaya-budaya besar dianggap sebagai pusat-pusat budaya, maka negara-negara di kawasan Asia Tenggara bisa dianggap pinggiran. Abad ke-21 dipandang sebagai abad Asia sehingga sejak akhir abad ke-20 telah muncul kekuatan baru di Asia yaitu Jepang dan Korea Selatan. Jepang dan Korea tidak hanya maju di bidang teknologi otomotif dan elektronik, mereka juga maju di bidang industri kreatif. Masyarakat di kawasn Asia Tenggara menjadi konsumen budaya Jepang dan Korea Selatan.

            Industri kreatif memiliki posisi strategis dalam menghadapi MEA 2015, karena  produk kreatif terutama yang berbasis elektronik paling mudah disebarluaskan melalui media elektronik. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan Asia Tenggara menjadi  pasar yang potensial bagi pemasaran produk kreatif global. Masyarakat Indonesia juga memiliki potensi yang besar untuk menjadi pelaku industri kreatif. Kaum intelektual bersama dengan para pengusaha dan pemerintah merupakan Triple Helix yang secara bersama-sama  perlu membangun fondasi industri kreatif nasional yang kuat. Jika kebersamaan ketiga unsur itu tidak segera dilakukan maka Indonesia hanya akan menjadi objek dari industri kreatif global. (http://www.academia.edu/9573747/Hibridisasi_Budaya_Strategi_Kreatif_Menghadapi_Masyarakat_Ekonomi_Asean_2015)

            Dengan hadirnya MEA, Indonesia sejatinya memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan dengan meningkatkan skala ekonomi aggregate, sebagai dasar untuk memperoleh keuntungan, dengan menjadikannya sebagai sebuah momentum untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia, MEA akan menjadi peluang  karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan perdagangan antar negara ASEAN menjadi bebas tanpa hambatan. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan ekspor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia.

            Namun sebaliknya, pemberlakuan MEA 2015 akan dapat menjadikan kita sebagai konsumer, yang ditandai dengan hanya menjadi pasar impor. Apabila tanpa persiapan yang matang dalam meningkatkan produktivitas, efesiensi, dan daya saing. Apalagi saat ini Indonesia adalah pengimpor pangan yang sangat besar. Jika tidak mampu meningkatkan produksi pangannya secara mandiri, Indonesia akan terus mengalami defisit neraca perdagangan yang berdampak pada melemahnya nilai Rupiah.
            Ekonomi Kreatif akan menjadi trend ekonomi dunia dalam beberapa tahun mendatang. Stagnasi pertumbuhan ekonomi dan degradasi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, mendorong seluruh dunia untuk lebih mengedepankan kreativitas dalam berkehidupan ekonomi yang memaksimalkan nilai tambah dari suatu produk barang dan jasa dalam rangka keberlanjutan kehidupan dan peradaban manusia.  (https://www.pu.go.id/content/show/178)
            Di Indonesia, gagasan pengembangan ekonomi kreatif menguat setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato pembukaan INACRAFT 2005 menekankan pentingnya pengembangan industri kerajinan dan kreativitas bangsa dalam rangka pengembangan ekonomi yang berdaya saing. Setelah itu, Kementerian Perdagangan membentuk Indonesia Design Power dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan desain dan penciptaan merek. Melalui Indonesia Design Power Trade Expo, Kementerian Perdagangan mulai memberikan zona khusus dalam pameran yang diselenggarakan kepada wirausaha kreatif.
            Visi pengembangan ekonomi kreatif hingga 2025 adalah menjadikan "Ekonomi Kreatif sebagai penggerak terciptanya Indonesia yang berdaya saing dan masyarakat berkualitas hidup".
            Melalui visi tersebut, pengembangan ekonomi kreatif bertujuan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaya saing, yaitu Indonesia dengan masyarakatnya yang mampu berkompetisi secara adil, jujur, dan menjunjung tinggi etika dan unggul di tingkat nasional maupun global, serta memiliki kemampuan (daya juang) untuk terus melakukan perbaikan (continuous improvement), dan selalu berpikir positif untuk menghadapi tantangan dan permasalahan. Selain itu, pengembangan ekonomi kreatif juga bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas hidup, yaitu masyarakat yang sehat jasmani dan rohani, berpendidikan, memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan, memiliki kehidupan yang seimbang, memiliki kepedulian sosial, memiliki toleransi dalam menerima perbedaan yang ada dan bahagia. (http://program.indonesiakreatif.net/creative-economy/)
            Ekonomi kreatif berbasis kebudayaan.
            Semakin pentingya peran ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional serta karakteristik Indonesia yang terkenal dengan keragaman sosio-budaya yang tersebar di seluruh pelosok nusantara tentunya dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering dalam melakukan pengembangan industri kreatif. Keragaman yang dicirikan pula oleh kearifan lokal masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian budaya telah berlangsung antar generasi.
            Daniel Pink dalam bukunya,”The Whole New Mind” (2006) menjelaskan bahwa sektor kreatif yang dikembangkan di negara maju sulit ditiru oleh negara lainnya karena lebih menekankan kemampuan spesifik yang melibatkan kreativitas, keahlian dan bakat; seperti aspek art, beauty, design, play, story, humor, symphony, caring, empathy dan meaning. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas SDM yang diperlukan adalah manusia yang berkarakter dan kreatif. Di dukung pula Richard Florida yang mengklasifikasikan industri kreatif bernuansa akademik (universitas), berorientasi teknologi (tech-pole), bernuansa artistik (bohemian), pendatang (imigran/keturunan etnis tertentu), disamping itu Florida menekankan pula 3T (Talent, Tolerance and Technology).
            Lalu, bagaimana dengan kondisi Indonesia yang memiliki peninggalan warisan budaya yang beragam dari sabang hingga merauke? Warisan budaya yang kita miliki didalamnya pun memiliki banyak nilai kreatifitas yang menekankan pada aspek art, beauty, social, empathy, ceremony, dll. Keragaman budaya tersebut menandakan tingginya kreatifitas yang telah tertanam dalam masyarakat Indonesia yang mencirikan keahlian spesifik dan talenta yang dimiliki. Keragaman budaya tersebut didukung pula oleh keragaman etnis dalam masyarakat Indonesia. Indonesia pun memiliki beragam bahasa yang dipersatukan oleh bahasa Indonesia. Keragaman tersebut dapat hidup berdampingan karena tingginya toleransi yang dimiliki. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki faktor pendukung yang powerfull dalam melakukan pengembangan ekonomi kreatif.
            Wujud kebudayaan daerah yang tersebar tersebut yaitu Rumah Adat, tarian, musik, alat musik, gambar, patung, pakaian, suara, satra/tulisan dan makanan. Dimana wujud kebudayaan tersebut mencirikan kreatifitas yang tertanam di dalamnya serta didukung oleh lingkungan kreatifitas yang berlangsung antar generasi. Bila perkembangan industri kreatif memiliki basis kebudayaan tentu akan menjadi sumber inpirasi terus-menerus. Ke-14 subsektor industri kreatif (periklanan; arsitektur; pasar dan barang seni; kerajinan; desain; fesyen; film, video & fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan & percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; televisi dan radio; riset & pengembangan) dapat dikembangkan dengan keragaman budaya yang ada serta saling mendukung karena faktor pendukung yang telah tercipta dalam kebudayaan.
            Berbagai usaha pemanfaatan warisan budaya tradisional, selain dapat melestarikannya juga menjadi kebanggaan terhadap identitas Bangsa. Disamping itu, diperlukan pula pemanfaatan teknologi informasi yang tepat guna sebagai faktor pendukung yang tak kalah penting. Perkembangan teknologi informasi yang cepat belakangan ini merupakan peluang dalam melakukan sintesis terhadap kebudayaan. Sehingga perkembangan ekonomi kreatif akan menjadi kekuatan yang mengakar karena didukung kebudayaan dan perkembangan teknologi informasi. (http://news.indonesiakreatif.net/ekonomi-kreatif-berbasis-kebudayaan/)
            Oleh sebab itu industri ekonomi kreatif Indonesia harus terus dimajukan agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Untuk memajukan industri ekonomi kreatif di Indonesia diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :      
            Pertama, peningkatan industri ekonomi kreatif berbasis budaya. Dengan jumlah pulau yang berjumlah sekitar 17.448 (pulau besar dan pulau kecil) menjadikan Indonesia memiliki keragaman budaya yang begitu besar. Terdapat ratusan keanekaragaman budaya yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Potensi kebudayaan Indonesia ini tentunya harus dapat dimanfaatkan untuk memajukan industri kreatif di Indonesia. Salah satu dari kebudayaan Indonesia yang dapat dijadikan basis dalam memajukan industri ekonomi kreatif adalah Batik.    
            Batik merupakan pakaian khas Indonesia yang telah mendunia. Belum lagi di setiap daerah di Indonesia memiliki motif dan corak batik yang berbeda-beda. Tentunya dengan peningkatan industri kreatif berbasis budaya akan semakin memajukan industri batik dan budaya Indonesia yang lainnya. Selain itu dengan peningkatan industri kreatif berbasis budaya Indonesia juga akan memberikan ciri khas dan keunikan tersendiri dari setiap barang dan jasa yang dihasilkan. Tentunya hal tersebut akan memberikan daya tarik bagi para wisatawan dan pembeli baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan peningkatan industri kreatif berbasis budaya juga akan meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk hidup lebih baik di penjuru Indonesia. Sehingga dapat memberikan multi manfaat bagi bangsa indonesia yakni pemerataan ekonomi dan pemgembangan budaya lokal yang ada di Indonesia.
            Kedua, peningkatan sumber daya manusia berbasis ekonomi kreatif. Sumber daya manusia memiliki peranan penting dalam pengembangan industri ekonomi kreatif. Karena industri ekonomi kreatif memiliki tumpuan kuat pada kreatifitas dan talenta sumber manusia yang dimiliki. Sumber daya manusia yang kreatif, bertalenta dan juga handal tentunya akan menghasilkan karya-karya terbaik pada industri ekonomi kreatif. Robert Lucas, pemenang Nobel di bidang ekonomi, mengatakan bahwa kekuatan yang menggerakkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi kota atau daerah dapat dilihat dari tingkat produktivitas klaster orang-orang bertalenta dan orang-orang kreatif atau manusia-manusia yang mengandalkan kemampuan ilmu pengetahuan yang ada pada dirinya. Oleh sebab itu peningkatan kualitas dan mutu sumber daya manusia pada industri ekonomi kreatif sangat diperlukan guna peningkatan kualitas dan mutu barang dan jasa yang dihasilkan.
            Langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu sumber daya manusia yang dimiliki antara lain dengan membuat program pelatihan industri ekonomi kreatif di seluruh penjuru Indonesia. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan bekal keahlian pada setiap sumber daya manusia guna memanfaatkan setiap potensi di daerahnya masing-masing sebagai industri ekonomi kreatif. Karena di setiap daerah di Indonesia memiliki potensi yang berbeda-beda tentunya program pelatihan yang diberikan harus menjurus pada pemanfaatkan potensi di daerah tersebut. Selain itu pemerintah juga dapat membangun sumber daya manusia di bidang ekonomi kreatif melalui pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis ekonomi kreatif. Pendirian SMK berbasis ekonomi kreatif ini bertujuan untuk mengembangkan berbagai sektor indistri ekonomi kreatif dengan memasukan berbagai jurusan seperti desain grafis, fashion, animasi, kerajinan, kuliner, dan lain sebagainya. Tentunya pendirian SMK berbasis ekonomi kreatif ini akan semakin memaksimalkan pembangunan sumber daya manusia berbasis ekonomi kreatif melalaui institusi pendidikan formal.
            Ketiga, peningkatan pemberian insentif dari pemerintah. Saat ini yang membuat industri ekonomi kreatif di Indonesia belum bisa berkembang pesat adalah kurangnya insentif atau bantuan pendanaan untuk mengembangkan usaha industri ekonomi kreatif yang telah dijalankan. Mayoritas pelaku industri ekonomi kreatif mengandalkan modal milik pribadi ataupun berkelompok. Oleh sebab itu pemerintah harus memberikan perhatian yang serius pada pelaku industri ekonomi kreatif salah satunya dengan memberikan insentif kepada pelaku industri ekonomi kreatif tanpa membebani meraka terhadap insentif yang diberikan. Sehingga para pelaku industri ekonomi kreatif dapat terus mengembangkan usahanya dan berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.
            Keempat, peningkatan kapasitas dan mutu produksi. Untuk terus meningkatkan industri ekonomi kreatif baik itu dari segi jumlah dan penjualan adalah dengan peningkatan kapasitas produksi dan mutu produk-produk dari industri ekonomi kreatif. Karena yang menjadi salah satu permasalahan belum berkembangnya industri ekonomi kreatif adalah karena faktor produksi dan mutu yang belum maksimal dan baik. Bahkan masyarakat indonesia lebih suka membeli produk impor daripada produk dalam negeri karena mereka menilai produk impor lebih berkualitas dari produk dalam negeri. Sehingga dibutuhkan peningkatan kapasistas produksi dan mutu produk industri ekonomi kreatif agar barang dan jasa yang dihasilkan bisa terserap labih banyak lagi dan memberikan kepercayaan bagi para konsumen.
            Kelima, peningkatan pemasaran di dalam dan di luar negeri. Berdasarkan data resmi dari Kementerian Perindustrian pada tahun 2012 nilai ekspor produk dari industri ekonomi kreatif mencapai 118 triliun rupiah atau 5,7% dari total ekspor nasional. Tentunya hal tersebut memberikan gambaran bahwa industri ekonomi kreatif memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pemasaran produk-produk keluar negeri (ekspor). Untuk terus meningkatkan penyerapan barang dan jasa dari industri ekonomi kreatif diperlukan peningkatan pemasaran baik di dalam maupun di luar negeri. Namun, untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan intervensi dari pemerintah agar pelaku industri ekonomi kreatif dapat dengan mudah mengakses dan menyalurkan produk-produk yang dihasilkan baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga barang dan jasa yang dihasilkan dari industri ekonomi kreatif Indonesia bisa semakin dikenal baik oleh masyarakat nasional maupun masyarakat dunia.
            Kelima langkah diatas merupakan terobosan untuk menjadikan industri ekonomi kreatif Indonesia sebagai salah satu faktor membangkitkan perekonomian nasional dan menjadikan indonesia sebagai aktor ekonomi dunia dimana barang dan jasa yang dihasilkan dapat mengembangkan budaya nasional dan dikenal oleh dunia. (http://writingcontest.bisnis.com/artikel/read/20150904/405/469132/membangkitkan-perekonomian-indonesia-melalui-ekonomi-kreatif-berbasis-budaya-berorientasi-dunia)




DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar